Published On: Sun, May 12th, 2013

Uskup Manado untuk Tahun Iman: Mari Bersyukur dan Mari Peduli

Uskup Manado Mgr. Josef Suwatan, MSC

Uskup Manado Mgr. Josef Suwatan, MSC

Para Pastor, biarawan-biarawati dan umat sekalian yang terkasih, Bapa Suci Paus Benedictus XVI mengumumkan dari Roma kepada seluruh Gereja Universal untuk merayakan Tahun Iman. Alasannya ialah seperti yang dinyatakan oleh Bapa Suci sendiri dalam Porta Fidei no. 4, “Saya memutuskan untuk mengumumkan suatu Tahun Iman. Tahun Iman itu akan dimulai tanggal 11 Oktober 2012, peringatan 50 (lima puluh) tahun pembukaan Konsili Vatikan II, dan akan berakhir pada hari raya Kristus Raja Semesta Alam, tanggal 24 November 2013. Tanggal 11 Oktober 2012 itu juga menandai 20 (dua puluh) tahun terbitnya Katekismus Gereja Katolik, yang dipromulgasikan oleh pendahulu saya, Beato Yohanes Paulus II, yang memaparkan keluhuran dan keindahan iman kepada seluruh umat, sebagai buah otentik Konsili Vatikan II.”

Sebagai Uskup Manado, saya mengajak seluruh umat Keuskupan Manado untuk merayakan Tahun Iman ini bersama-sama dengan seluruh Gereja Universal. Secara khusus kita ingin memaknai Tahun Iman ini dengan tema Mari Bersyukur dan Mari Peduli. Kita ingin bersyukur kepada Allah yang Mahapengasi, yang telah membukakan pintu kepada iman bagi kita semua. Kita masih ingat bahwa pada tahun 1993 umat katolik Keuskupan Manado merayakan 125 tahun kembalinya Gereja Katolik di wilayah Keuskupan Manado ini. Peristiwa itu ditandai oleh kehadiran Pastor Jan de Vries SJ yang mendarat di Pantai Kema pada tahun 1868 dan membaptis beberapa puluh orang di sana. Mengapa dikatakan kembalinya? Karena dari pengetahuan sejarah umum umat kristiani sudah tahu bahwa zaman dahulu para pedagang rempah-rempah bangsa Portugis dan Spanyol sudah mewartakan agama Katolik di daerah kita ini dan bahwa St. Fransiskus Xaverius sendiri sudah dikenal luas sebagai misionaris awal di Maluku pada abad ke-16, maka kita tahu bahwa saat itu sudah ada orang-orang katolik.

Sekelumit Sejarah Kehadiran Iman
Dalam kesempatan Tahun Iman ini, kita mempelajari dan meneliti secara lebih seksama kapan persisnya ada permandian katolik pertama di wilayah yang kemudian menjadi Keuskupan Manado ini? Buku-buku sejarah menunjukkan bahwa tahun 1563 sering dianggap sebagai tahun permulaan agama Katolik di bagian Utara pulau Sulawesi. Itu misalnya dikatakan dalam buku-buku Sejarah Gereja Katolik di Indonesia, antara lain yang diterbitkan oleh Pastor M.P.M Muskens tahun 1972-1974 dalam 4 Jilid. Tahun 1563 itu disebutkan sebagai permulaan misi Gereja di Wilayah kita ini karena pada waktu itu sudah ada seorang imam katolik yang datang dan tinggal di Manado, yaitu Pastor Diogo Magelhães. Dilaporkan bahwa pada bulan Mei tahun 1563 itu beliau membaptis kurang lebih 1500 orang di Manado dan Siau. Informasi ini diperoleh menurut data sejarah dalam buku Sejarah Gereja karangan Pastor Hubert Jacobs SJ, yang berjudul Documenta Malucensia jilid I halaman 410-420. Di sana terdapat laporan yang ditulis oleh pastor Manado yang kedua yang bernama Pastor Pero Masqarenhas SJ. Beliau menulis surat itu di Ternate yang tertanggal 10 Februari 1564 untuk memberi informasi kepada teman-teman pastor Yesuit di Lissabon, Portugal.

Tetapi seri buku Documenta Malucensia yang diterbitkan tahun 1974, yang berisi surat-surat dan laporan-laporan para misionaris Yesuit khususnya Vol. I antara tahun 1542-1577, dalam bahasa Latin-Portugis-Spanyol itu juga menyebutkan data sejarah bahwa pada tahun 1538 sudah ada orang katolik yang dibaptis di pantai utara pulau Sulawesi. Pembaptisnya bukan seorang imam misionaris, melainkan seorang kapten kapal Portugis bernama Francisco de Castro, yang atas perintah komandan benteng Ternate Antonio Galvao, mengadakan ekspedisi/penyelidikan ke daerah-daerah Papua, Sulawesi dan Mindanao. Faktum itu juga disebut dalam buku “A treatise on the Moluccas”, ditulis sekitar tahun 1544, yang barangkali merupakan versi awal buku ‘Historia das Molucas’ karangan Antonio Galvao sendiri, panglima Ternate tahun 1536-1540 yang sangat disegani dan dihormati. Buku kedua ini sudah diterbitkan lebih dulu, tahun 1971. Kedua buku tebal dan sangat berharga ini diterbitkan dan diberi catatan oleh Hubert Jacobs S.J.

Antonio Galvao sendiri dalam bukunya ‘Descobrimentos’ juga mengatakan (hal. 256) bahwa ia telah membuat banyak pertobatan di antara orang-orang Sulawesi, Makassar, Ambon, Moro, dan Morotai. Dalam catatan kaki ‘Treatise’ hal. 362 no. 11 tentang Galvao yang menyebut pulau-pulau Utara (Mindanao) dan Celebes, dikatakan bahwa si pengarang menyinggung ekspedisi yang dilakukan Francisco de Castro yang dikirim Galvao. Peristiwa yang sama dicatat juga oleh sejarahwan semasa dengan Galvao, yaitu Castanheda, dalam bukunya pasal VIII hal. 200, hal yang dibenarkan oleh Galvao sendiri (Descobrimentos 256). Galvao memberikan tanggal atau waktu terjadinya peristiwa-peristiwa itu yakni tahun 1538. Iman Katolik sudah 475 hadir di Wilayah Keuskupan Manado.

Berdasarkan data sejarah di atas, maka kiranya kita bisa mendapatkan kepastian bahwa sudah sejak tahun 1538 itu terjadi permandian pertama di pantai utara pulau Sulawesi. Memang bisa saja terjadi bahwa sebelum tahun itu sudah ada lagi orang lain yang lebih dahulu membaptis di tempat lainnya di daerah kita ini. Namun dengan berpegang pada data sejarah yang disebutkan dalam buku-buku resmi itu, kita merasa mendapatkan kepastian akan kebenaran peristiwa sejarah tersebut. Peringatan permulaan kehadiran iman dalam suatu wilayah Gerejani atau Keuskupan biasanya dihitung mulai dari permandian pertama. Dan kita bersyukur dalam kesempatan Tahun Iman ini dapat mengenangkan kembali peritiwa di mana Allah membuka pintu kepada iman bagi umat katolik di Wilayah Keuskupan Manado ini. Peristiwa itu juga mengandung makna yang penting bagi sejarah misi dan relevansinya bagi karya misi Gereja sekarang bahwa permandian pertama itu dilakukan oleh seorang awam. Sehingga diharapkan perayaan ini dapat meningkatkan semangat dan motivasi para awam dalam Gereja katolik untuk sungguh-sungguh menjadi misionaris sejati atau utusan Tuhan dalam menghayati iman katolik.

Beberapa Bentuk Perayaan Tahun Iman.

Kita ingin bersyukur atas anugerah iman selama 475 tahun itu secara bermakna dan berdaya guna. Maka kita ingin mengisi Tahun Iman yang bertema Mari Bersyukur dan Mari Peduli dengan lebih bermakna dan berdaya guna. Secara lebih konkret pelaksanaan perayaan Tahun Iman itu akan dibagi dalam 4 (empat) bidang yang akan memberi makna secara nyata bagi rasa syukur dan kepedulian itu. Pertama, bagian Pendalaman Iman, untuk malaksanakan kegiatan-kegiatan pembinaan iman, katekese iman, sharing iman, dan penghayatan iman pribadi yang semakin kokoh dan mantap sebagai orang katolik sejati. Hendaknya disusun program-progam pembinaan dan pendalaman iman.

Kedua, bagian Studi Sejarah kehadiran Iman di Wilayah Keuskupan Manado. Studi sejarah kehadiran iman kristiani ini bisa diisi pula dengan penulisan Sejarah Paroki dan Stasi serta seminar ekumenis dengan mengajak Gereja-gereja Kristen lain untuk mensharingkan sejarah kehadiran mereka dan bersyukur atas anugerah iman kristiani.
Ketiga, bagian Perbuatan Iman, yang merupakan tindakan nyata dari tema Mari Peduli. Kita akan mengisi tahun iman ini dengan perbuatan-perbuatan iman. Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (Yak. 2: 17). Maka marilah kita menunjukkan kepedulian kita kepada saudara-saudari kita yang menderita, yang miskin, yang sakit, usia lanjut dan yang terlantar.

Keempat, bagian Perayaan Iman, yang berupa peryaan liturgis untuk menandai ucapan syukur atas anugerah iman. Pantaslah dirancang suatu liturgi yang meriah, gembira, agung dan mulai, walaupun tidak harus mewah dan mahal. Dan perayaan liturgis sebagai puncak perayaan tahun iman itu akan dilaksanakan pada tingkat Kevikepan. Hendaknya seluruh umat merayakannya di tingkat kevikepan pada waktu yang ditetapkan masing-masing secara bijaksana. Perayaan di tingkat Keuskupan akan dilaksanakan bersamaan dengan perayaan di Vatikan tanggal 24 November 2013, hari Raya Kristus Raja Semesta Alam.

Saya mengajak seluruh umat Keuskupan Manado, sebagai Persekutuan Umat beriman yang mandiri, komunikatif, melayani dan misioner ini untuk merayakan Tahun Iman dengan persiapan yang matang dan pelaksanaan yang mulia. Mari kita serahkan segala rencana dan pelaksanaan Tahun Iman sepanjang tahun ini ke dalam pertolongan dan doa-doa Bunda Maria, Bunda Kristus dan Bunda Gereja.

1 Januari 2013
Uskup Manado Mgr. Josef Suwatan MSC.
sumber: keuskupanmanado.org

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>